Senin, 07 Desember 2015

Bahasa adalah alat komunikasi yang paling mudah sekaligus adalah alat komunikasi yang termahalpembelajaran mengenai bahasa bagi sebagian orang di indonesia adalah hal yang disepelekan karna di angap tidak perlu mendalami bahasa atau alasan-alasan klasik lainya namun taukah anda bahwa masarakat indonesia dapat menguasai bahasa lebih dari satu, ini dikarnakan bangsa indonesia memiliki suku yang bergam dan dimsing-masing suku itu menggunakan bahasa daerah yang berbeda-beda pula.

masing masing kita pasti memiliki difinisi berbeda beda mengenai bahasa, yang menjadi titik yang tak pernah berubah adalah bahasa yang terbagi menjadi verba dan non verba, 

keberagaman bahasa non verba disetiap daerah juga memiliki perbedaan dan konvensinya masing-masing,

sebagai bangsa yang ingin maju alangkah baiknya kita mencinta semua hal tentang bangsa kita sejarah, bahasa , adat, budaya, 

jangan selalu menjadi penerus bangsa yang pasif 

mari mulai mencinta bangsa ini dari bahasanya coret baju kita dan tulis dengan satu kalimat ini "cinta bangsa mulai dari bahasa" mari ciptakan generasi bangsa ini satu tudung yang sebenarnya dilandasi sumpah pemuda yang memiliki salah satu butirnya mengenai menjungjung bahasa nasional dan jangan buang bahasa ibu. 

 

Minggu, 31 Mei 2015

LEGENDA DEPIK

 LEGENDA DEPIK


Mungkin kita jarang mendengar kata depik , ialah ikan ademik disuatu danau di laut tawar  Aceh. Takengon , namun ada sebuah cerita yang cukup terkenal di aceh tengah yakni tetnatng asal usul ikan depik , memang banyak fersi penceritaan tentang legenda yang satu ini termasuk salah satunya yang berada di daerah saya, tepatnya di kampong pedemun kecamatan laut tawar.

Depik
Diceritakan di suatu masa tingallah seorang pemuda yang tingal di seputaran danau laut tawar pemuda ini adalah seorang tukang kayu, “pembuat sampan” pemuda ini menjalani kesehariannya dengan bergelut dengan kayu. Suatu hari  ia menikahi seorang bunga desa di desanya hari demi hari mereka lalui dengan suka cita, setiap harinya sang istri pemuda ini selalu mengantar makanan ke tempat kerja sang suami yakni di dermaga tempat suaminya memahat sampan, hari-hari pun berlalu, sang suami yang keseharianya melakukan pekerjaan keras mulai menampakkan kelelahan\ya , suatu pagi tangan sang suami terluka karna kesalahan teknis kerjanya namun karna pemesan kayu sudah mendesak ia terpaksa melanjutkan pekerjaanya, dan waktu itu pula sang istri sedang hamil oleh karna itu pemuda itu membawa bekel sendiri dari rumah, yang tentunya sang istrilah yang menyiapkanya dulu dirumah . siang pun tiba waktunya makan siang namun bekalnya hanya berisi telur ayam dan sayur ditambah  garam dan  cabe rawit. Setelah makan siang pemuda pun  mengeluh karana hanya memakan telur setiap harinya, di berandai bisa memakan dengan lauk selain telur, namun dalam sedang dia berandai adai luka pemuda itu pun kembali terbentur dengan siku kiri nya  sepontan pemuda ini menjatuhkan nasi yang dia pangkunya  ke danau sembil meringis kesakitan dia kembali megeluh karn merasa hidupnya begitu berat, disutulah terjadi keajaiban dari yang maha kuasa, nasi yang terlembar oleh pemuda tadi seketika berubah menjadi ribuan ikan depik. Dengan rasa penasaran yang kaut walaupun dengan kesakitan luka tangannya pemuda itu mendekai ribuan ikan depik yang ada di depan mata nya, dan dengan sabar dia menagkap beberapa, dan membawa pulang kerumah , sang istri pemuda itu merasa kaget dengan apa yang di bawa suaminya itu, sang istri pun memesak dan mereka sajikan sebagai makan malam. Bebrapa bulan kemudian sang istri pun melahirkan tidak begitu pasti jenis kelamin dalam cerita ini tentang sang anak namun dalam masarakat takengon yang berada di pingiran danau laut tawar bahwa darah meraka mengalih darah sisi kebaikan tuhan yak ni ikan depik, mereka juga yakin bahwa semakin seorang anak memakan ikan depik maka ank itu pun semakin cerdas dan mahir dalam berenang karna nasi yang jatuh ke danu sudah gosong dari situlah asal muasal corak hitam dan pahit pada ikan depik yang pahit adalah bagian kepala,
 

Nah itulah sebuah kisah tentang ikan depik, memang banyak persi yang ada namun memiliki kisah yang hampir serupa tiap persinya, saya sendiri adalah anak danau saya tingal di seputaran danau, orang tua saya adalah seorang nelayan. Kami juga mengkonsumsi ikan depik dan di dalam darah daging kami tersimpan sembuah keajaiban yakni ikan depik, 

Jumat, 29 Mei 2015

contoh : Analisisi sastra mengunakan teori Struktural semiotik

Semiotika Strukturalis

Saussure mendefinisikan semiotika (semiotics) sebagai ilmu yang mengkaji tentang peran tanda sebagai bagian dari kehidupan sosial. Menurut Umberto Eco, tanda didefinisikan sebagi sesuatu yang atas dasar konvensi sosial yang terbangun sebelumnya, dapat dianggap mewakili sesuatu yang lain. Littlejohn (1996: 64) dalam Sobur (2001: 95) menyatakan bahwa tanda-tanda (signs) adalah basis dari seluruh komunikasi. Tidak mengherankan bila sebagian teori komunikasi berasal dari semiotik, karena tanpa tanda manusia tidak bisa berkomunikasi.

Dalam ”Course in General Lingustics” karya Saussure, di kemudian hari hasil pemikirannya dianggap sebagai sumber teori linguistik yang paling berpengaruh, dimana kita mengenalnya dengan istilah ”strukturalisme” (Greenz, 2001: 178 dalam Sobur, 2003: 44). Hasil pemikiran Saussure yang terpenting adalah prinsip yang mengatakan bahwa tanda (sign) tersusun dari dua bagian yaitu penanda (signifier) adalah bunyi yang bermakna dan petanda (signified) adalah konsep dari bahasa. Hubungan antara keduanya terbentuk berdasar kesepakatan umum (konvensi). Menurut Saussure linguistik dapat ditelaah dari dua dimensi, yaitu dimensi vertikal (sinkronik) dan dimensi horisontal (diakronik). Untuk memahami analisis sinkronik terhadap teks adalah dengan melihat pola berlawanan yang terpasang dan terpendam dalam teks (struktur paradigmatis) sementara analisis diakronik memusatkan perhatian pada rangkaian peristiwa atau kejadian (struktur sintagmatis) yang membentuk narasi.

Semiotika strukturalisme mendasarkan diri pada semiologi Saussurean. Dimana analisis struktural berupaya menyatakan kembali (reconstitute), organisasi simbol-simbol di dalam sistem tempat mereka berada. (Irawanto, 1999: 29). Salah satu pemikir semiologi strukturalisme yang sangat dipengaruhi oleh Saussure adalah Roland Barthes, dimana menurut pemikirannya, bahwa signifikansi adalah proses yang total dengan suatu susunan yang sudah terstruktur. Sumbangan Barthes yang sangat berarti bagi penyempurnaan semiotika Saussure adalah melanjutkan proses penandaan yang berhenti pada tataran denotatif. Sebab terdapat perbedaan yang mendasar antara tataran konotasi adalah makna yang khusus atau makna yang tersembunyi, sedangkan tataran denotasi adalah makna umum atau makna sesungguhnya. Dalam semiologi Bathes, denotasi merupakan sistem signifikansi (pemaknaan) tingkat pertama, sementara konotasi adalah sistem signifikansi tingkat kedua. (Budiman, 1999: 22, dalam Sobur, 2003: 70 – 71).

Tujuan analisis Barthes, bukan hanya untuk membangun suatu sistem klasifikasi unsur-unsur narasi yang sangat formal, namun lebih banyak untuk menunjukkan bahwa tindakan yang paling masuk akal, rincian yang paling meyakinkan, atau teka-teki yang paling menarik, merupakan produk buatan, dan bukan tiruan dari yang nyata. (Sobur, 2003: 66).
Dalam kerangka Barthes, konotasi identik dengan operasi ideologi, yang disebut sebagai ‘mitos’, dan berfungsi untuk mengungkapkan dan memberikan pembenaran bagi nilai-nilai dominan yang berlaku dalam suatu periode tertentu. Seperti halnya Marx, Barthes juga memahami ideologi sebagai kesadaran palsu yang membuat orang hidup di dalam dunia yang imajiner dan ideal, meski realitas hidupnya yang sesungguhnya tidaklah demikian. Ideologi ada selama kebudayaan ada. Kebudayaan mewujudkan dirinya dalam teks-teks dan, dengan demikian, ideologi pun mewujudkan dirinya melalui berbagai kode yang merembes masuk ke dalam teks dalam bentuk penanda-penanda penting, seperti tokoh, latar, sudut pandang, dan lain-lain. (Sobur, 2003: 71). Menurut Van Zoest (1993: 109) dalam Irawanto (1999: 35), film adalah salah satu bidang kajian semiotik atau analisis struktural, karena film dibangun dengan tanda semata-mata. Tanda-tanda itu termasuk berbagai sistem tanda yang bekerja sama dengan baik untuk mencapai efek yang diharapkan.

Pendekatan semiotik menekankan pandangannya pada bentukan dan makna yang digunakan individu dalam konteks budaya untuk memproduksi maknanya. Ini berarti bahwa budaya memegang peranan penting dalam merubah pengggunaan bahasa, penggunaan dan penerimaan bahasa yang terkait dengan social agreement (kesepakatan sosial) inilah yang kemudian menentukan pemaknaan atas realita yang ada yang direpresentasikan oleh tanda-tanda yang telah disepakati bersama. Semiotik menggunakan istilah tanda untuk menjelaskan bagaimana makna atau pemaknaan diproduksi secara sosial. Beberapa ciri-ciri yang dimiliki tanda, yaitu: (Branson & Stafford, 2003: 11).
(1)        Sebuah tanda memiliki bentuk fisik, yang disebut signifier (penanda) seperti model potongan rambut atau lampu lalu lintas;
(2) Sebuah tanda mengacu kepada sesuatu selain dirinya, yang disebut signified (pertanda/yang ditandai) hal ini menekankan pada sebuah konsep yang dimaksud, bukan mengacu pada hal nyata yang ada didunia;
(3) Semiotik menekankan bahwa persepsi kita akan realita adalah dibentuk dan dikonstruksi sendiri oleh kata dan tanda yang kita gunakan dalam beragam konteks sosial







LELAKI YANG DITELAN GERIMIS

Adalah pertemuan  teman lama yang telah lama berpisah, yakni tokoh aku dan tokoh suman perbincangan di sebuah rex penayong, sewajarnya dengan temen yang telah lama tidak bertemu mereka saling bercerita dan saling melontarkan pertanyaan satu samalain. Cerita semakin menarik setelah tokoh aku menayakan berita tentang teman, kerabat, dan kampongnya, di akhir cerita juga terungkap bahwa tokoh suman sebenarnya sudah meningal dunia, lalu siapa yang berbincang binjang dengannya tokoh aku dalam rek sore tadi.

1. Tema
Tema adalah gagasan pokok yang mendasari cerita:
Tema dalam “cerita lelaki yang ditelan gerimis” ini adalah pengambaran tentang persahabatan dan ketegangan yang terjadi di banda aceh / aceh.
 Contohnya adalah dalam tokoh ini  menceritakan tentang jelas tentang sahabatnya “suman “dalam cerita ini sewaktu masih dip pondok, tentang resiko yang mereka hadapi bersama jika ketahuan bolos dari pondok, dan kepedulian tokoh aku terhapp temen-temen se pondoknya, yang tak lupa ditanya kabar. Dalam cerita ini juga ada pengamabaran tentang hal yang memicu ketegangan di banda aceh/ aceh “Banyak suara dar-der-dor Mengerikan” dengan pendekatan semiotic dapat di tapsirkan sebagai peperangan/perampokan atau pesan tersirat lainnya yang melibatkan senjata api.

2. Tokoh
1. tokoh aku
tokoh aku adalah : sebagai tokoh yang membawa cerita atau disebut juga sebagai tokoh utama. Pengamabaran tokoh aku adalah pemuda yang sedikit nakal, dan memiliki jiwa persahabatan yang baik pada sobatnya suman.tokoh aku juga sedikit unik karna memiliki pemikiran yang tidak bisasa, karana sewaktu didayah tokoh aku sempat dihukumm  didayah,  tapi mengigat teman yang lain juga di hukum karna hal yang sama tokoh aku mengangap hal itu sebagai hal yang biasa.
“Kami satu bilik ketika mondok di dayah -sebutan lain untuk pesantren. Kalau malam sehabis mengaji, kami suka mencuri-curi untuk menonton televisi di rumah Pak Samad, yang rumahnya tak jauh dari dayah Beberapa kali Teungku Ubit, guru ngaji kami, memergoki kami keluar dan esoknya kami kena hukuman dipukul telapak tangan dengan sapu lidi”
“Perihnya luar biasa. Bekas merahnya seminggu baru hilang. Tetapi hukuman itu tidak bisa dielakkan. Bukan hanya kami, sejumlah kawan lain yang kepergok menonton televisi sehabis mengaji juga dihukum. Di dayah kami memang ada aturan tidak boleh menonton televise”

Namun tokoh aku dalam cerita “lelaki yang ditelan gerimis” ini adalah orang yang seimbanga antara pendidikan agama dan disiplin ilmu lain meski tidak begitu ditail di certikan dalam cerpen “lelaki yang ditelan gerimis
“Maklum, tampat kami nyantri adalah pesantren tradisional, tidak ada sekolahnya. Yang ada cuma mengaji, baik mengaji Al Quran, maupun kitab-kitab klasik. Ketika era aku mondok dulu, tahun 1980-an”
Ketika aku melanjutkan kuliah ke Yogyakarta, kami sama sekali tidak pernah bertemu lagi. Kudengar ia kuliah di sebuah perguruan tinggi di Banda Aceh.
(Namun tokoh aku juaga meiliki sipat rendah diri disaping tokoh aku sebagai aktivis Lsm, juga memiliki hati yang baik.)
Bagaimana bisa kau ada di sini,” tanyanya setelah ia menarik kursi dan duduk menghadap ke arahku. “Kudengar kau sudah jadi pengacara hebat di Jakarta,” ujarnya lagi.
“Enggak juga. Aku masih bekerja di kantor pengacara orang. Berarti itu belum hebat. Pengacara hebat tentulah sudah punya kantor firma hukum sendiri,” kataku. “Omongomong apa kegiatanmu sekarang?”
Pembicaraan kami terhenti ketika penjual makanan datang membawa secangkir kopi panas dan menaruh di depannya.
“Setelah lulus kuliah, di samping tetap di pesantren, aku juga menjadi aktivis LSM. Aku ingin berbuat sesuatu yang nyata pada rakyat dan memperjuangkan hak-hak mereka yang selama ini tertindas.”
“Oh ya? Tapi tidak pernah kudengar namamu ditulis koran- koran.”
“Aku bukan selebriti dan tidak hendak menjadi selebriti. Aku bekerja di bawah, menggali masalah-masalah yang dihadapi masyarakat dan mencoba mengatasinya. Misalnya kalau mereka mengungsi, kami mengupayakan anak-anak mereka tetap bisa sekolah dengan mendirikan tenda sekolah darurat. Atau kalau ada orang yang menjadi korban kekerasan, kami membantu mereka untuk memulihkan trauma atau membantu mereka melaporkan kepada Komnas HAM. Hanya pekerjaan-pekerjaan seperti itu yang bisa kami lakukan.”

2. tokoh suman
Tokoh suman adalah tokoh yang mendampigi tokoh utama pengamabaran tentang suman adalah orang yang mendalami ilmu agama dan meiliki keseimbangan juga dengan disiplin ilmu lain mengigat tokoh suman juga masuk sebuah unversersitas di banda aceh. Tokoh suman dalam cerita “lelaki yang ditelan gerimis” pengambaran tokoh suman adalah sebagi pemuda yang misterius, dan menjadi soroton tokoh aku dalam cerita.
Lulus SMP, aku tidak lagi mondok di situ dan melanjutkan sekolah ke Banda Aceh. Suman melanjutkan sekolah di kampung dan tetap mondok. Ia sekolah sambil tetap bisa mondok. Antara sekolah dan dayah pesantren memang lembaga terpisah Maklum, tampat kami nyantri adalah pesantren tradisional, tidak ada sekolahnya.
Disamping itu tokoh suman adalah tokoh yang cerdas dan pandai membagi waktu dan juga memiliki perbadi sebagai sosok guru
“Suman telah menjadi asisten teungku yang mengajar anak-anak di bawah usianya. Penampilannya pun jadi berbeda. Ia menjadi lebih alim. Kemana-mana pakai peci dan bersarung. Orang-orang pun menyebutnya teungku”.
“Ketika aku melanjutkan kuliah ke Yogyakarta, kami sama sekali tidak pernah bertemu lagi. Kudengar ia kuliah di sebuah perguruan tinggi di Banda Aceh. Sambil kuliah, ia tetap mondok di pesantren di pinggiran Kota Banda Aceh. Di sana, ia juga menjadi asisten teungku dayah, mengajar ngaji untuk santri di bawah usianya”
Namun tokoh suman juga memiliki hal-hal yang misterius yang beberapa percakapan antara tokoh suman dan tokoh utama dan tidak trijawab untuk tokoh aku
Aku hanya membuka-buka saja, halaman demi halaman, sambil membaca judul-judulnya saja. Menjelang halaman terakhir, mataku tertumbuk pada sebuah berita kecil di sudut paling bawah.
Judulnya membikin jantungku berdebar kencang. “Mayat Suman Ditemukan Membusuk di Tengah Sawah”. Aku meneliti baris demi baris berita itu dan berharap bahwa Suman dimaksud bukanlah kawan baikku, yang baru saja bertemu denganku. Tetapi harapanku sia-sia. Dari semua ciri yang disebutkan, mayat itu adalah Suman.
Ia mati dengan tiga lubang peluru tubuhnya.




3. Fakta Cerita
1. alur
Alur dalam cerita “lelaki yang ditelan gerimis” adalah alur campuran adalah alur campuran yaitu perpaduan antara alur maju dan alur mundur. Hal ini karena dalam cerita ini sebagian besar dipaparkan flashback atau cerita masa lalu tokoh “aku” berdasakan sifatnya, perilakunya, dan lain-lain.
2. tahap penyetuasian
a. tahap pemunculan komplik :
dalam cerita “lelaki ditelan gerimis” ini yang memicu komplik  adalah dalam percakapan antara kedua tokoh yakni tokoh aku dan suman yang mana tokoh aku menayakan kabar salah seorang teman kedua tokoh.
Ali bagaimana kabarnya?” Ali yang kumaksud adalah teman sekelas kami dulu di SMP.
“Dia membantuku mengabdi pada masyarakat. Dia kerap tinggal bersama pengungsi untuk mengurus keperluan mereka di pengungsian.”
“Sekarang dia di kampung?”
Suman tidak menjawab. Ia diam dan menerawang. Lalu matanya berkedap-kedip dan ia menggigit bibir.
“Ada apa?” tanyaku.
“Ali.”
“Kenapa Ali?”
“Dia mati tertembak sebulan lalu.”
“Tertembak?”
b. tahap peningkatan komplik
terlibat dialok antar tokoh aku dan tokoh suman yakni :
Omong-omong bagaimana keadaan pesantren kita sekarang?”
“Sudah tidak seramai dulu. Santrinya tinggal sedikit. Hanya orang-orang di sekitar itu yang menjadi santri. Santri dari luar daerah tidak ada sama sekali. Sejak gonjang-ganjing ini, mereka tidak berani keluar dari kampung. Kalau keluar kampung ya ke kota sekalian, misalnya ke Banda Aceh, Medan, atau bahkah ke Jakarta

c.klimaks
kembali peningkatan komplik lainya terdapat dalam kutipan kedua tokoh ini yakni tokoh aku dan suman
. Teungku Ubit bagaimana kabarnya?”
Kembali ia terdiam. Matanya kembali menerawang. Ia menarik napas pelan-pelan dan mengembuskannya perlahan. “Nasib Teungku Ubit juga menyedihkan. Ia mati di ujung senjata beberapa bulan lalu,” katanya pelan.
Kembali aku tersentak. “Mengapa?”
“Entahlah,” Suman menggeleng.
Aku terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Suasana memang begitu menyakitkan, begitu menyedihkan.
“Omong-omong ada acara apa kau pulang?” Suman lalu bersuara.
“Aku mau menjemput orangtuaku dan membawanya ke Jakarta. Kasihan kalau mereka terus tinggal di kampung. Banyak suara dar-der-dor.

d. Tahap penyelesaian
Kalau begitu, aku balik dulu ya,” katanya sambil menyodorkan tangan kepadaku untuk berjabat tangan sebagai tanda perpisahan. Kami berjabat tangan, setelah itu dia melangkah meninggalkan taman Rex. Tetapi, baru saja ia keluar dari komplek taman Rex, gerimis tiba-tiba mengepung. Kulihat dia tidak berhenti dan berbalik untuk berteduh, tetapi terus berjalan sampai hilang di belokan jalan. Gerimis seperti menelannya.
Tak lama, gerimis pun berubah menjadi hujan besar. Lebih dari setengah jam baru hujan itu reda. Setelah reda benar, aku meninggalkan Rex dan berjalan kaki ke hotel yang tidak jauh dari situ. Sebenarnya, kalau tidak hujan, aku pingin berlama-lama di Rex. Aku yakin bakal bertemu sejumlah kawan di sana. Maklum, Rex tempat favorit bagi warga kota untuk bersantai atau nongkrong sampai dini hari.
Masuk kamar, aku langsung ganti pakaian dengan baju tidur. Untuk mempercepat tidur, aku menyambar koran pagi yang tergeletak di tas meja. Aku hanya membuka-buka saja, halaman demi halaman, sambil membaca judul-judulnya saja. Menjelang halaman terakhir, mataku tertumbuk pada sebuah berita kecil di sudut paling bawah.
Judulnya membikin jantungku berdebar kencang. “Mayat Suman Ditemukan Membusuk di Tengah Sawah”. Aku meneliti baris demi baris berita itu dan berharap bahwa Suman dimaksud bukanlah kawan baikku, yang baru saja bertemu denganku. Tetapi harapanku sia-sia. Dari semua ciri yang disebutkan, mayat itu adalah Suman.
Ia mati dengan tiga lubang peluru tubuhnya.
4. Latar Tempat
Rex  penayong, dayah/pasantren, hotel.
a. Latar tempat dalam rex penayong :
Kami bertemu di Rex, Peunayong, ketika gerimis baru saja reda mengguyur Kota Banda Aceh itu. Aku tidak tahu dia muncul dari mana, tiba-tiba dia sudah berada di depanku
b. latar tempat dayah :
Kami satu bilik ketika mondok di dayah -sebutan lain untuk pesantren. Kalau malam sehabis mengaji, kami suka mencuri-curi untuk menonton televisi di rumah Pak Samad, yang rumahnya tak jauh dari dayah.
c. latar tempat hotel
Setelah reda benar, aku meninggalkan Rex dan berjalan kaki ke hotel yang tidak jauh dari situ. Sebenarnya, kalau tidak hujan, aku pingin berlama-lama di Rex. Aku yakin bakal bertemu sejumlah kawan di sana. Maklum, Rex tempat favorit bagi warga kota untuk bersantai atau nongkrong sampai dini hari. Masuk kamar, aku langsung ganti pakaian dengan baju tidur.
5. Latar Waktu
Malam :  aku dan Suman. Nyaris setiap malam kami keluar lewat jendela belakang bilik dan mengendap- endap keluar melalui pintu samping tempat wudu.
Malam : Udara malam makin menyengat mengirim gigil sampai sumsum. Meski telah mengenakan jaket yang agak tebal, hawa dingin tetap menusuk. Hujanlah yang membuat Kota Banda Aceh diselimuti dingin yang tak biasa ini. Aku baru merasakan dingin sedingin ini ya kali ini. Saat pulang dua tahun lalu, suasananya biasa-biasa saja.




6. Latar Suasana Sosial
 Tegang :
dapat digambarkan sebagia komplik / peperanagan, perampokan atu hal-hal yang melibatkan senjata apai sebagai ajuan yang sebenarnya.
Aku mau menjemput orangtuaku dan membawanya ke Jakarta. Kasihan kalau mereka terus tinggal di kampung. Banyak suara dar-der-dor. Mengerikan. Aku tidak tenang kalau mereka tetap berada di kampung. Kepikiran terus.”
Gonjang - ganjing :
 Sudah tidak seramai dulu. Santrinya tinggal sedikit. Hanya orang-orang di sekitar itu yang menjadi santri. Santri dari luar daerah tidak ada sama sekali. Sejak gonjang-ganjing ini, mereka tidak berani keluar dari kampung. Kalau keluar kampung ya ke kota sekalian, misalnya ke Banda Aceh, Medan, atau bahkah ke Jakarta.”
7. Gaya Pembahasan
Gaya penulisan atu pembahasan dalam cerpen “ leaki yang di telan gerimis” dalam penulisan mengunakan bahasa yang gamlang yang dapat di pahami oleh pembacanya, dan mudah di pahami , walau sedikit mengunakan bahsa-bahasa tersirat seperti “dar-der dor”. Mengunakan bahasa indonesia dalam penulisan cerpen.
8. Nilai Amanat
Meliputi:  nilai adat, sosial, nilai agama, nilai sosial,pendidikan.
Amanat nilai agama, :
Di dayah kami memang ada aturan tidak boleh menonton televisi.Alasannya, televisi banyak menyiarkan sesuatu yang tak bagus untuk dilihat mata. Misalnya, perempuan yang tidak menutup aurat, bahkan mengumbar aurat, tari-tarian atau lagu-lagu yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang ditanamkan di dayah.
Dalam agama islam juga dilarang baik, muslim maupun muslimah melihat dan memperlihatkan aurat kita ditempat umum atu kepada lawan jenis atu bukan muhrim kita.

Amanat sosial:
Setelah lulus kuliah, di samping tetap di pesantren, aku juga menjadi aktivis LSM. Aku ingin berbuat sesuatu yang nyata pada rakyat dan memperjuangkan hak-hak mereka yang selama ini tertindas
Menolong sesame kita, dan membantu menyelesaikan masalh bagi mereka yang buta akan hukum dan keadilan adalah suatu hal yang sewajarnya dalam kehidupan kita bersosial,
Nilai adat :
Kita harus memegang teguh nilai-nilai dalam masyarakat dan janganlah melanggar peraturan dengan sifat yang tidak baik.








Sabtu, 04 April 2015

IDENTITAS

ciri suatu orang atau keadaan khusus itulah yang di sebut sebagai identitas .
semua orang memiliki ciri semua orang memiliki apa yang kita sebut sebagai identitas. 
seorang akan dipandang buruk baik melalui perilaku, dan keperibadiannya, dan itu adalah identitas. 
ini adalah pengetauan dasar untuk dapat memahai apa yang akan kita perbincangkan dibawah melalui kata sambutan ini.

pembicaraan awal kita dimulai dari kata Aceh, di negeri ini siapa yang tidak pernah mendengar megah dan agung nya tempat ini selain dikenal sebagai serambi mekah juga sering tampil sebai tempat yang memuiliki 1001 sejarah, kelam dan gemerlapnya tanah ini bangun dan jatuh nya kemanusian, 
1.


keramahan palsu dengan iming iming kerjasama mereka yang pucat dan si mata lebuh mengobrak  ambrik kota tuan. yang penduduk retnan tanpa senjata namu gagah dan berani, besi tumpul dan berkarat jadi senjata.  bebrapa kali mereka tersungur dan mapar namun berkali kali juga mereka bertahan dan mendesak kota tua.
setelah merdeka ya tempat ini pernah merdeka. 
tak lama sejarah selanjut nya terlalu nekat bagi saya untuk memaparkan segalanya mengigat posisi saya hanyalah seorang mahasisiwa bukam sedikit tak apa.. 
paparan jelasnya tergamabar dari semua cerita , perang saudara kerisis pangan dan banyak lainnya sebatas sejarah karna tak banyak yang mengigatnya mengigat diman para orang tua dulu makan dengan nasi di campur jagung, angota kluarga yang berakhir di gelapnya rimba atau enyah hening di dalamnya samudra, 

2. satu hal yang tak pernah sayu lupakan dari tempat ini adalah peristiwa itu

peristiwa 26 desember 2004, dimana ombak tingi yang menandungi rumah berlantai dua, ombak yang meratakan apa saja yang dilaluinya ombak yang menelan ribuan nyawa tua, muda, sakit atu sehat, kaya atau miskin. mungkin tanah ini taakan lupa semuanya . kentalnya darah, asinnya air mata, atau dinginya air samudra . 

kembali pada identitas, dengan peristiwa yang menerpa kita yang seilh berganti memang akan selalu ada hikmahnya, yang masih bernapas bisa menata hidup tapi tak sedikit juga tersesak,sesak karna kehabisan akal untuk bertahan hidup. 

dengan peristiwa itu apakah kita harus tumbuh denga peribadi yang mengigat dan melagkah maju dengan memori, atau generasi tukang ngopi yang maju dan maju tapa ingat sejarah atau , generasi pemebrontak yang ingin mundur lagi 

kembali ke identitas malulah pada apa yang sudah kita lalui jika kalian yang muda sempat membaca catatan kecil saya ini , sudah abaikan saja catat juga sejrah menurut padaganmusendiri bukannya menyimpanya dan terlupakan setitik kata bernilai sejar dan mati ditangan mu bukankah kau berdosa karna ada satu titik yang terlupakan natinya dan tak tersamnapaikan pada anak cucu kita , mari membuat identitas membentuk jiwa tulis, menumbuhkan minat baja, jangan terlalu sibuk dengan yang ditawarkan sesekali mari membuat pemawaran. 



terimakasih like dan komen ya