Semiotika
Strukturalis
Saussure mendefinisikan semiotika (semiotics) sebagai
ilmu yang mengkaji tentang peran tanda sebagai bagian dari kehidupan sosial.
Menurut Umberto Eco, tanda didefinisikan sebagi sesuatu yang atas dasar
konvensi sosial yang terbangun sebelumnya, dapat dianggap mewakili sesuatu yang
lain. Littlejohn (1996: 64) dalam Sobur (2001: 95) menyatakan bahwa tanda-tanda
(signs) adalah basis dari seluruh komunikasi. Tidak mengherankan bila sebagian
teori komunikasi berasal dari semiotik, karena tanpa tanda manusia tidak bisa
berkomunikasi.
Dalam ”Course in General Lingustics” karya Saussure, di
kemudian hari hasil pemikirannya dianggap sebagai sumber teori linguistik yang
paling berpengaruh, dimana kita mengenalnya dengan istilah ”strukturalisme”
(Greenz, 2001: 178 dalam Sobur, 2003: 44). Hasil pemikiran Saussure yang
terpenting adalah prinsip yang mengatakan bahwa tanda (sign) tersusun dari dua
bagian yaitu penanda (signifier) adalah bunyi yang bermakna dan petanda
(signified) adalah konsep dari bahasa. Hubungan antara keduanya terbentuk
berdasar kesepakatan umum (konvensi). Menurut Saussure linguistik dapat
ditelaah dari dua dimensi, yaitu dimensi vertikal (sinkronik) dan dimensi
horisontal (diakronik). Untuk memahami analisis sinkronik terhadap teks adalah
dengan melihat pola berlawanan yang terpasang dan terpendam dalam teks
(struktur paradigmatis) sementara analisis diakronik memusatkan perhatian pada
rangkaian peristiwa atau kejadian (struktur sintagmatis) yang membentuk narasi.
Semiotika strukturalisme mendasarkan diri pada semiologi
Saussurean. Dimana analisis struktural berupaya menyatakan kembali
(reconstitute), organisasi simbol-simbol di dalam sistem tempat mereka berada.
(Irawanto, 1999: 29). Salah satu pemikir semiologi strukturalisme yang sangat
dipengaruhi oleh Saussure adalah Roland Barthes, dimana menurut pemikirannya,
bahwa signifikansi adalah proses yang total dengan suatu susunan yang sudah
terstruktur. Sumbangan Barthes yang sangat berarti bagi penyempurnaan semiotika
Saussure adalah melanjutkan proses penandaan yang berhenti pada tataran
denotatif. Sebab terdapat perbedaan yang mendasar antara tataran konotasi
adalah makna yang khusus atau makna yang tersembunyi, sedangkan tataran
denotasi adalah makna umum atau makna sesungguhnya. Dalam semiologi Bathes,
denotasi merupakan sistem signifikansi (pemaknaan) tingkat pertama, sementara
konotasi adalah sistem signifikansi tingkat kedua. (Budiman, 1999: 22, dalam
Sobur, 2003: 70 – 71).
Tujuan analisis Barthes, bukan hanya untuk membangun
suatu sistem klasifikasi unsur-unsur narasi yang sangat formal, namun lebih
banyak untuk menunjukkan bahwa tindakan yang paling masuk akal, rincian yang
paling meyakinkan, atau teka-teki yang paling menarik, merupakan produk buatan,
dan bukan tiruan dari yang nyata. (Sobur, 2003: 66).
Dalam kerangka Barthes, konotasi identik dengan operasi
ideologi, yang disebut sebagai ‘mitos’, dan berfungsi untuk mengungkapkan dan
memberikan pembenaran bagi nilai-nilai dominan yang berlaku dalam suatu periode
tertentu. Seperti halnya Marx, Barthes juga memahami ideologi sebagai kesadaran
palsu yang membuat orang hidup di dalam dunia yang imajiner dan ideal, meski
realitas hidupnya yang sesungguhnya tidaklah demikian. Ideologi ada selama
kebudayaan ada. Kebudayaan mewujudkan dirinya dalam teks-teks dan, dengan
demikian, ideologi pun mewujudkan dirinya melalui berbagai kode yang merembes
masuk ke dalam teks dalam bentuk penanda-penanda penting, seperti tokoh, latar,
sudut pandang, dan lain-lain. (Sobur, 2003: 71). Menurut Van Zoest (1993: 109)
dalam Irawanto (1999: 35), film adalah salah satu bidang kajian semiotik atau
analisis struktural, karena film dibangun dengan tanda semata-mata. Tanda-tanda
itu termasuk berbagai sistem tanda yang bekerja sama dengan baik untuk mencapai
efek yang diharapkan.
Pendekatan semiotik menekankan pandangannya pada
bentukan dan makna yang digunakan individu dalam konteks budaya untuk
memproduksi maknanya. Ini berarti bahwa budaya memegang peranan penting dalam
merubah pengggunaan bahasa, penggunaan dan penerimaan bahasa yang terkait
dengan social agreement (kesepakatan sosial) inilah yang kemudian menentukan
pemaknaan atas realita yang ada yang direpresentasikan oleh tanda-tanda yang
telah disepakati bersama. Semiotik menggunakan istilah tanda untuk menjelaskan
bagaimana makna atau pemaknaan diproduksi secara sosial. Beberapa ciri-ciri
yang dimiliki tanda, yaitu: (Branson & Stafford, 2003: 11).
(1) Sebuah
tanda memiliki bentuk fisik, yang disebut signifier (penanda) seperti model potongan
rambut atau lampu lalu lintas;
(2) Sebuah tanda mengacu kepada sesuatu selain dirinya,
yang disebut signified (pertanda/yang ditandai) hal ini menekankan pada sebuah
konsep yang dimaksud, bukan mengacu pada hal nyata yang ada didunia;
(3) Semiotik menekankan bahwa persepsi kita akan realita
adalah dibentuk dan dikonstruksi sendiri oleh kata dan tanda yang kita gunakan
dalam beragam konteks sosial
LELAKI YANG DITELAN GERIMIS
Adalah
pertemuan teman lama yang telah lama
berpisah, yakni tokoh aku dan tokoh suman perbincangan di sebuah rex penayong,
sewajarnya dengan temen yang telah lama tidak bertemu mereka saling bercerita
dan saling melontarkan pertanyaan satu samalain. Cerita semakin menarik setelah
tokoh aku menayakan berita tentang teman, kerabat, dan kampongnya, di akhir
cerita juga terungkap bahwa tokoh suman sebenarnya sudah meningal dunia, lalu
siapa yang berbincang binjang dengannya tokoh aku dalam rek sore tadi.
1.
Tema
Tema
adalah gagasan pokok yang mendasari cerita:
Tema
dalam “cerita lelaki yang ditelan gerimis” ini adalah pengambaran tentang
persahabatan dan ketegangan yang terjadi di banda aceh / aceh.
Contohnya adalah dalam tokoh ini menceritakan tentang jelas tentang sahabatnya
“suman “dalam cerita ini sewaktu masih dip pondok, tentang resiko yang mereka
hadapi bersama jika ketahuan bolos dari pondok, dan kepedulian tokoh aku
terhapp temen-temen se pondoknya, yang tak lupa ditanya kabar. Dalam cerita ini
juga ada pengamabaran tentang hal yang memicu ketegangan di banda aceh/ aceh
“Banyak suara dar-der-dor Mengerikan” dengan pendekatan semiotic dapat di
tapsirkan sebagai peperangan/perampokan atau pesan tersirat lainnya yang
melibatkan senjata api.
2.
Tokoh
1.
tokoh aku
tokoh
aku adalah : sebagai tokoh yang membawa cerita atau disebut juga sebagai tokoh
utama. Pengamabaran tokoh aku adalah pemuda yang sedikit nakal, dan memiliki
jiwa persahabatan yang baik pada sobatnya suman.tokoh aku juga sedikit unik
karna memiliki pemikiran yang tidak bisasa, karana sewaktu didayah tokoh aku
sempat dihukumm didayah, tapi mengigat teman yang lain juga di hukum
karna hal yang sama tokoh aku mengangap hal itu sebagai hal yang biasa.
“Kami
satu bilik ketika mondok di dayah -sebutan lain untuk pesantren. Kalau malam
sehabis mengaji, kami suka mencuri-curi untuk menonton televisi di rumah Pak
Samad, yang rumahnya tak jauh dari dayah Beberapa
kali Teungku Ubit, guru ngaji kami, memergoki kami keluar dan esoknya kami kena
hukuman dipukul telapak tangan dengan sapu lidi”
“Perihnya
luar biasa. Bekas merahnya seminggu baru hilang. Tetapi hukuman itu tidak bisa
dielakkan. Bukan hanya kami, sejumlah kawan lain yang kepergok menonton
televisi sehabis mengaji juga dihukum. Di dayah kami memang ada aturan tidak
boleh menonton televise”
Namun tokoh aku dalam cerita
“lelaki yang ditelan gerimis” ini adalah orang yang seimbanga antara pendidikan
agama dan disiplin ilmu lain meski tidak begitu ditail di certikan dalam cerpen
“lelaki yang ditelan gerimis
“Maklum,
tampat kami nyantri adalah pesantren tradisional, tidak ada sekolahnya. Yang
ada cuma mengaji, baik mengaji Al Quran, maupun kitab-kitab klasik. Ketika era
aku mondok dulu, tahun 1980-an”
Ketika
aku melanjutkan kuliah ke Yogyakarta, kami sama sekali tidak pernah bertemu
lagi. Kudengar ia kuliah di sebuah perguruan tinggi di Banda Aceh.
(Namun tokoh aku juaga meiliki
sipat rendah diri disaping tokoh aku sebagai aktivis Lsm, juga memiliki hati
yang baik.)
Bagaimana
bisa kau ada di sini,” tanyanya setelah ia menarik kursi dan duduk menghadap ke
arahku. “Kudengar kau sudah jadi pengacara hebat di Jakarta,” ujarnya lagi.
“Enggak
juga. Aku masih bekerja di kantor pengacara orang. Berarti itu belum hebat.
Pengacara hebat tentulah sudah punya kantor firma hukum sendiri,” kataku.
“Omongomong apa kegiatanmu sekarang?”
Pembicaraan
kami terhenti ketika penjual makanan datang membawa secangkir kopi panas dan
menaruh di depannya.
“Setelah
lulus kuliah, di samping tetap di pesantren, aku juga menjadi aktivis LSM. Aku
ingin berbuat sesuatu yang nyata pada rakyat dan memperjuangkan hak-hak mereka
yang selama ini tertindas.”
“Oh
ya? Tapi tidak pernah kudengar namamu ditulis koran- koran.”
“Aku
bukan selebriti dan tidak hendak menjadi selebriti. Aku bekerja di bawah,
menggali masalah-masalah yang dihadapi masyarakat dan mencoba mengatasinya.
Misalnya kalau mereka mengungsi, kami mengupayakan anak-anak mereka tetap bisa
sekolah dengan mendirikan tenda sekolah darurat. Atau kalau ada orang yang
menjadi korban kekerasan, kami membantu mereka untuk memulihkan trauma atau
membantu mereka melaporkan kepada Komnas HAM. Hanya pekerjaan-pekerjaan seperti
itu yang bisa kami lakukan.”
2.
tokoh suman
Tokoh
suman adalah tokoh yang mendampigi tokoh utama pengamabaran tentang suman
adalah orang yang mendalami ilmu agama dan meiliki keseimbangan juga dengan
disiplin ilmu lain mengigat tokoh suman juga masuk sebuah unversersitas di
banda aceh. Tokoh suman dalam cerita “lelaki yang ditelan gerimis” pengambaran
tokoh suman adalah sebagi pemuda yang misterius, dan menjadi soroton tokoh aku
dalam cerita.
Lulus
SMP, aku tidak lagi mondok di situ dan melanjutkan sekolah ke Banda Aceh. Suman
melanjutkan sekolah di kampung dan tetap mondok. Ia sekolah sambil tetap bisa
mondok. Antara sekolah dan dayah pesantren memang lembaga terpisah Maklum,
tampat kami nyantri adalah pesantren tradisional, tidak ada sekolahnya.
Disamping itu tokoh suman adalah
tokoh yang cerdas dan pandai membagi waktu dan juga memiliki perbadi sebagai
sosok guru
“Suman
telah menjadi asisten teungku yang mengajar anak-anak di bawah usianya.
Penampilannya pun jadi berbeda. Ia menjadi lebih alim. Kemana-mana pakai peci
dan bersarung. Orang-orang pun menyebutnya teungku”.
“Ketika
aku melanjutkan kuliah ke Yogyakarta, kami sama sekali tidak pernah bertemu
lagi. Kudengar ia kuliah di sebuah perguruan tinggi di Banda Aceh. Sambil
kuliah, ia tetap mondok di pesantren di pinggiran Kota Banda Aceh. Di sana, ia
juga menjadi asisten teungku dayah, mengajar ngaji untuk santri di bawah
usianya”
Namun tokoh suman juga memiliki
hal-hal yang misterius yang beberapa percakapan antara tokoh suman dan tokoh
utama dan tidak trijawab untuk tokoh aku
Aku
hanya membuka-buka saja, halaman demi halaman, sambil membaca judul-judulnya
saja. Menjelang halaman terakhir, mataku tertumbuk pada sebuah berita kecil di
sudut paling bawah.
Judulnya
membikin jantungku berdebar kencang. “Mayat Suman Ditemukan Membusuk di Tengah
Sawah”. Aku meneliti baris demi baris berita itu dan berharap bahwa Suman
dimaksud bukanlah kawan baikku, yang baru saja bertemu denganku. Tetapi
harapanku sia-sia. Dari semua ciri yang disebutkan, mayat itu adalah Suman.
Ia
mati dengan tiga lubang peluru tubuhnya.
3.
Fakta Cerita
1.
alur
Alur
dalam cerita “lelaki yang ditelan gerimis” adalah alur campuran adalah alur
campuran yaitu perpaduan antara alur maju dan alur mundur. Hal ini karena dalam
cerita ini sebagian besar dipaparkan flashback atau cerita masa lalu tokoh
“aku” berdasakan sifatnya, perilakunya, dan lain-lain.
2.
tahap penyetuasian
a.
tahap pemunculan komplik :
dalam
cerita “lelaki ditelan gerimis” ini yang memicu komplik adalah dalam percakapan antara kedua tokoh
yakni tokoh aku dan suman yang mana tokoh aku menayakan kabar salah seorang
teman kedua tokoh.
Ali bagaimana kabarnya?” Ali yang
kumaksud adalah teman sekelas kami dulu di SMP.
“Dia membantuku mengabdi pada
masyarakat. Dia kerap tinggal bersama pengungsi untuk mengurus keperluan mereka
di pengungsian.”
“Sekarang dia di kampung?”
Suman tidak menjawab. Ia diam dan
menerawang. Lalu matanya berkedap-kedip dan ia menggigit bibir.
“Ada apa?” tanyaku.
“Ali.”
“Kenapa Ali?”
“Dia mati tertembak sebulan lalu.”
“Tertembak?”
b.
tahap peningkatan komplik
terlibat
dialok antar tokoh aku dan tokoh suman yakni :
Omong-omong bagaimana keadaan
pesantren kita sekarang?”
“Sudah tidak seramai dulu.
Santrinya tinggal sedikit. Hanya orang-orang di sekitar itu yang menjadi
santri. Santri dari luar daerah tidak ada sama sekali. Sejak gonjang-ganjing
ini, mereka tidak berani keluar dari kampung. Kalau keluar kampung ya ke kota
sekalian, misalnya ke Banda Aceh, Medan, atau bahkah ke Jakarta
c.klimaks
kembali
peningkatan komplik lainya terdapat dalam kutipan kedua tokoh ini yakni tokoh
aku dan suman
.
Teungku Ubit bagaimana kabarnya?”
Kembali ia terdiam. Matanya kembali
menerawang. Ia menarik napas pelan-pelan dan mengembuskannya perlahan. “Nasib
Teungku Ubit juga menyedihkan. Ia mati di ujung senjata beberapa bulan lalu,”
katanya pelan.
Kembali aku tersentak. “Mengapa?”
“Entahlah,” Suman menggeleng.
Aku terdiam, tidak tahu harus
berkata apa. Suasana memang begitu menyakitkan, begitu menyedihkan.
“Omong-omong ada acara apa kau
pulang?” Suman lalu bersuara.
“Aku mau menjemput orangtuaku dan
membawanya ke Jakarta. Kasihan kalau mereka terus tinggal di kampung. Banyak
suara dar-der-dor.
d.
Tahap penyelesaian
Kalau begitu, aku balik dulu ya,”
katanya sambil menyodorkan tangan kepadaku untuk berjabat tangan sebagai tanda
perpisahan. Kami berjabat tangan, setelah itu dia melangkah meninggalkan taman
Rex. Tetapi, baru saja ia keluar dari komplek taman Rex, gerimis tiba-tiba
mengepung. Kulihat dia tidak berhenti dan berbalik untuk berteduh, tetapi terus
berjalan sampai hilang di belokan jalan. Gerimis seperti menelannya.
Tak lama, gerimis pun berubah
menjadi hujan besar. Lebih dari setengah jam baru hujan itu reda. Setelah reda
benar, aku meninggalkan Rex dan berjalan kaki ke hotel yang tidak jauh dari
situ. Sebenarnya, kalau tidak hujan, aku pingin berlama-lama di Rex. Aku yakin
bakal bertemu sejumlah kawan di sana. Maklum, Rex tempat favorit bagi warga
kota untuk bersantai atau nongkrong sampai dini hari.
Masuk kamar, aku langsung ganti
pakaian dengan baju tidur. Untuk mempercepat tidur, aku menyambar koran pagi
yang tergeletak di tas meja. Aku hanya membuka-buka saja, halaman demi halaman,
sambil membaca judul-judulnya saja. Menjelang halaman terakhir, mataku
tertumbuk pada sebuah berita kecil di sudut paling bawah.
Judulnya membikin jantungku
berdebar kencang. “Mayat Suman Ditemukan Membusuk di Tengah Sawah”. Aku
meneliti baris demi baris berita itu dan berharap bahwa Suman dimaksud bukanlah
kawan baikku, yang baru saja bertemu denganku. Tetapi harapanku sia-sia. Dari
semua ciri yang disebutkan, mayat itu adalah Suman.
Ia mati dengan tiga lubang peluru
tubuhnya.
4.
Latar Tempat
Rex penayong, dayah/pasantren, hotel.
a.
Latar tempat dalam rex penayong :
Kami
bertemu di Rex, Peunayong, ketika gerimis baru saja reda mengguyur Kota Banda
Aceh itu. Aku tidak tahu dia muncul dari mana, tiba-tiba dia sudah berada di
depanku
b.
latar tempat dayah :
Kami
satu bilik ketika mondok di dayah -sebutan lain untuk pesantren. Kalau malam
sehabis mengaji, kami suka mencuri-curi untuk menonton televisi di rumah Pak
Samad, yang rumahnya tak jauh dari dayah.
c.
latar tempat hotel
Setelah
reda benar, aku meninggalkan Rex dan berjalan kaki ke hotel yang tidak jauh
dari situ. Sebenarnya, kalau tidak hujan, aku pingin berlama-lama di Rex. Aku
yakin bakal bertemu sejumlah kawan di sana. Maklum, Rex tempat favorit bagi
warga kota untuk bersantai atau nongkrong sampai dini hari. Masuk kamar, aku
langsung ganti pakaian dengan baju tidur.
5.
Latar Waktu
Malam
: aku dan Suman. Nyaris setiap malam
kami keluar lewat jendela belakang bilik dan mengendap- endap keluar melalui
pintu samping tempat wudu.
Malam
: Udara malam makin menyengat mengirim gigil sampai sumsum. Meski telah
mengenakan jaket yang agak tebal, hawa dingin tetap menusuk. Hujanlah yang
membuat Kota Banda Aceh diselimuti dingin yang tak biasa ini. Aku baru
merasakan dingin sedingin ini ya kali ini. Saat pulang dua tahun lalu,
suasananya biasa-biasa saja.
6.
Latar Suasana Sosial
Tegang :
dapat
digambarkan sebagia komplik / peperanagan, perampokan atu hal-hal yang
melibatkan senjata apai sebagai ajuan yang sebenarnya.
Aku mau menjemput orangtuaku dan
membawanya ke Jakarta. Kasihan kalau mereka terus tinggal di kampung. Banyak
suara dar-der-dor. Mengerikan. Aku tidak tenang kalau mereka tetap berada di
kampung. Kepikiran terus.”
Gonjang
- ganjing :
Sudah tidak seramai dulu. Santrinya tinggal
sedikit. Hanya orang-orang di sekitar itu yang menjadi santri. Santri dari luar
daerah tidak ada sama sekali. Sejak gonjang-ganjing ini, mereka tidak berani
keluar dari kampung. Kalau keluar kampung ya ke kota sekalian, misalnya ke
Banda Aceh, Medan, atau bahkah ke Jakarta.”
7.
Gaya Pembahasan
Gaya
penulisan atu pembahasan dalam cerpen “ leaki yang di telan gerimis” dalam
penulisan mengunakan bahasa yang gamlang yang dapat di pahami oleh pembacanya,
dan mudah di pahami , walau sedikit mengunakan bahsa-bahasa tersirat seperti
“dar-der dor”. Mengunakan bahasa indonesia dalam penulisan cerpen.
8.
Nilai Amanat
Meliputi:
nilai adat, sosial, nilai agama, nilai
sosial,pendidikan.
Amanat
nilai agama, :
Di dayah kami memang ada aturan
tidak boleh menonton televisi.Alasannya, televisi banyak menyiarkan sesuatu
yang tak bagus untuk dilihat mata. Misalnya, perempuan yang tidak menutup
aurat, bahkan mengumbar aurat, tari-tarian atau lagu-lagu yang tidak sesuai
dengan nilai-nilai yang ditanamkan di dayah.
Dalam
agama islam juga dilarang baik, muslim maupun muslimah melihat dan
memperlihatkan aurat kita ditempat umum atu kepada lawan jenis atu bukan muhrim
kita.
Amanat
sosial:
Setelah lulus kuliah, di samping
tetap di pesantren, aku juga menjadi aktivis LSM. Aku ingin berbuat sesuatu
yang nyata pada rakyat dan memperjuangkan hak-hak mereka yang selama ini
tertindas
Menolong
sesame kita, dan membantu menyelesaikan masalh bagi mereka yang buta akan hukum
dan keadilan adalah suatu hal yang sewajarnya dalam kehidupan kita bersosial,
Nilai
adat :
Kita
harus memegang teguh nilai-nilai dalam masyarakat dan janganlah melanggar
peraturan dengan sifat yang tidak baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar